Dari Epilog, Untuk Prolog. (Bagian II)
A way
Dari Epilog, Untuk Prolog. (II)
"Sebuah kisah selalu memiliki prolog, selalu diakhiri dengan epilog. Begitu pula dengan hidup, terdiri dari rangkaian prolog-epilog yang tak terhitung banyaknya."
.
Membaca sebuah tulisan lama yang diunggah pada 26 Maret 2021 lalu–yang tentunya sudah diarsip–, tulisan tentang pikiran yang sempat rumit. Dulu rasanya pikiran-pikiran semacam itu gak akan ada akhirnya, gak akan ada sembuhnya, seolah-olah gak akan ada lagi hari baik. Maybe I was being childish and merely got carried away or that actually was something valid, no one knows.
Rasanya seperti nyaris gila, tapi setelah dijalani, kayanya cuma kaget karena baru paham rasanya "beranjak dewasa". Karena tekanan yang kuanggap "krisis" waktu itu sekarang–Alhamdulillah-nya–berhasil aku lewati, sekarang kabarku cukup baik.
.
Pertanyaan-pertanyaan yang tahun lalu membebani pikiran perlahan sudah menemui titik terang-nya.
- "Mau publish paper tentang apa?", Alhamdulillah sudah pernah bikin paper, tentang ERP dan CRM. Kemudian ada yang tentang perancangan sistem pendukung keputusan juga.
- "Magang dimana?", Nggak bisa disebutkan, tapi Alhamdulillah perusahaan yang orangtua dan aku cita-citakan sejak dulu berkenan menerima dan membantu aku dalam belajar dan berproses.
- "Skripsi mau nulis apa?", Alhamdulillah saat ini sedang merancang sebuah sistem informasi yang insya Allah dapat memudahkan kinerja unit di suatu instansi.
- "Pas lulus mau ngelamar dimana?", Masih jadi pikiran, tapi insya Allah aku sudah tau minatku dimana dan mau melakukan apa.
- "IPK gimana?", Alhamdulillah aman! insya Allah bisa ditingkatkan lagi.
- "Bisa lulus tepat waktu ngga?", Sedang diusahakan, masih dalam proses.
- "Nulis apa tuh di CV?", Ga buruk, aku punya beberapa pengalaman walaupun masih sangat perlu belajar lebih banyak lagi. Karena sebagai manusia, we never actually stop learning.
Segala puji bagi Tuhanku atas seluruh kehendak-Nya.
I once heard of a saying that goes like,
"Manusia di-desain untuk survive dalam segala kondisi. Itu sebabnya kita refleks berlari kalo lagi dalam bahaya, atau bagaimana otak kita jadi bekerja lebih cepat di detik-detik deadline."
Juga ungkapan "it will never be too late to start something". Keputusan untuk gak nyerah walaupun susah ternyata sepenting itu. Faith, usaha buat buang mind/mental block jauh-jauh, keberanian buat terobos aja (of course setelah pertimbangin resiko yang ada), the will to get out of the comfort zone dan berkembang, kemauan buat terus belajar adalah satu dari hal-hal yang sampai saat ini terus aku usahakan agar aku bisa maju.
And now, most of the hardships I've been through felt as if they're unreal. Semua pengalaman itu menjadi sesuatu yang cukup mendewasakan. Pengalaman itu semakin membuat aku memaknai hidup.
Sesuai dengan tajuk jilid ini, you will eventually find a way. Walaupun yang sedang dihadapi rasanya unbearable. Walaupun kadang rasanya sia-sia, stres, capek, gak kebayang, hilang arah dan tujuan, walaupun ada 1001 hal yang bikin overthinking, kamu pasti akan nemu jalan keluar.
Just like a slight rain on a sunny day,
"Apapun yang dimulai, pasti ada akhirnya."
Akhir bagian II, "A way".
Salam.
Comments
Post a Comment